Bus Cinta

Judulnya asa gak enakeun, tapi mau bagaimana lagi. Kali ini aku akan membahas itu. Antara bus dan cinta. Dari hasil memikirkan perjalanan yang aku lakukan tadi siang. Setidaknya aku menemukan adanya beberapa hubungan antara bus dengan cinta. Bus itu hanyalah sebuah alat transportasi yang sangat penting bagi segelintir manusia, tapi tekadang bus banyak yang tidak suka. Cinta adalah sebuah rasa. Rasa yang mungkin setiap manusia memilikinya. Susu ada yang rasa coklat, stroberi, atau melon, adakah susu rasa cinta. Sudahlah jangan memikirkan rasa, sekarang aku ingin menceritakan tentang bus dengan cinta.

Hari sabtu ini hanya ada satu mata kuliah yaitu “Stand up comedy”. Kawan-kawan ku banyak yang absen hari ini. Yang hadir bisalah dihitung dengan jari (jari-jari kaki dan jari-jari tangan). Selesai kuliah aku berniat langsung pulang ke rumah, jadi gak banyak mampir sana-sini. Berjalan dari gedung Zet sampai ke pintu gerbang kampusku sudah biasa setiap harinya. Bertemu dengan kawan-kawanku yang sedang berteduh dibawah pohon dekat papan panjat. Diantara mereka memegang susu murni yang dibeli dari pasar yang ada di kampusku. Ternyata aku haus, kupinta dan kuminum susu rasa susu sapi (bukan susu rasa cinta). Setelah itu aku pamitan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Mampir dulu ke warung untuk membeli roti berselai coklat (bukan juga berselai cinta) dan air mineral buat bekal di perjalanan. Aku berdiam sambil duduk di pinggir jalan depan kampus dekat tukang es kelapa untuk menunggu bus yang tak kunjung datang.
“Cinta itu bagaikan bus Bandung-Cirebon. Ketika ditunggu-tunggu ia tak kunjung datang.”

Akhirnya datang juga bus ekonomi “Sahabat” jurusan Bandung-Cirebon. Aku lambaikan tanganku untuk menyetop bus yang melaju cukup kencang itu. Aku pun berlari mengejar bus yang terus melaju. Hingga akhirnya berhenti juga.
“Cinta pun demikian ketika dia datang butuh perjuangan untuk mendapatkannya”

Beruntung kali ini. Busnya memutar film box office yang biasa ditayangkan di bioskop-bioskop. Kali ini ditayangkan dalam bus dari sekeping DVD (pasti bajakan yakin itu pasti bajakan) melalui DVD player bermerk “Mi*o”. Aku pun duduk manis menyaksikan film itu, jarang-jarang lho di bus muter film, biasanya kan dangdut its music my country. Tempat duduk yang begitu nyaman, terkadang gak nyaman juga ketika supirnya ugal-ugalan, atau pun jalan yang berliku dan berlubang.
“Persis dengan cinta yang kadang kita sangat nyaman, tapi kadang kita dibuat pusing olehnya”

Ini yang aku perhatikan. Bus ini menuju satu tujuan, diperjalanan dihiasi oleh penumpang yang turun/naik. Terkadang ada penumpang yang tidak naik karena beda tujuan. Dan penumpang yang naikpun tidak semuanya menuju tujuan terakhir perjalanan bus ini. Pasti ada yang turun ditengah perjalanan.
“Cinta pun dalam perjalanannya akan ada orang-orang yang menghiasi hidup cinta tersebut. Ada yang selaras ada yang tidak. Yang selaras dia akan mengikuti kemana cinta itu berkelana, terkadang dia akan berhenti ditengah jalan karena merasa tidak selaras. Dan sejatinya cinta itu yang selaras sampai kemana tujuan akhir dari cinta itu menepi”

Film box officenya tamat, dan sudah kuduga dilanjut dengan dangdut lagi . . . dan aku pun tertidur lagi . . .

dan Satu lagi

“Cinta itu bagai tutup pentil ban bus yang selalu berputar ketika berjalan. Kadang ada diatas kadang ada dibawah...”

Perjalanan pulang Bandung-Cisalak 25 Februari 2012. Dalam bus “Sahabat” jurusan Bandung-Cirebon dengan ongkos 20 ribu kembalian 10 ribu plus bonus film Apocalypto . . . .

Related Post



Posting Komentar